Penerapan Paradiplomasi Kerjasama Sister City Jakarta-Beijing dalam Berbagai Bidang

penulis paradiplomasi
Disclaimer
Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis, tidak mewakili pandangan KADKI secara kelembagaan.
Print Friendly, PDF & Email

 

Globalisasi mendorong terbentuknya interaksi semakin kompleks sebab adanya international bias. Michele Acuto menganggap faktor ini mendorong pula terjadinya urbanisasi karena kesejahteraan, budaya, dan komunitas baru yang menjanjikan berada di kota. Urbanisasi yang terjadi pada akhirnya akan melahirkan relationship sehingga mampu menentukan keterlibatan daerah dalam situasi tertentu (Acuto, 2013). Rogier van der Pluijm menyebutkan bahwa paradiplomasi merupakan aktor-aktor di panggung politik internasional turut terlibat dalam hubungannya dengan suatu kota. Tujuannya untuk mewakili diri sendiri serta untuk kepentingan satu sama lain (Pluijm & Melissen, 2007).

Paradiplomasi merupakan bentuk diplomasi yang bertujuan membawa kepentingan kota atau daerah ke ranah internasional yang sejalan kepentingan negara. City as place dimana kota harus menjadi tempat yang aman, nyaman, dan metropolis untuk ditinggali, tempat berusaha, dan tempat komunitas. Kemudian, city as actors dimana kota dapat bergerak memetakan potensinya untuk berkompetisi dan membuat branding. Dengan demikian, kota dapat dikenal dan berkontribusi dalam pembangunan nasional dan internasional.

Paradiplomasi sangat penting untuk dikembangkan suatu daerah.  Pendekatan ini mampu menjadikan daerah sebagai aktor global. Dengan demikian, kepentingan daerah dan masyarakat dapat diangkat ke ranah global. Misalnya kepentingan dalam bidang ekonomi, migrasi terhadap daerahnya, hingga menjadi mediator konflik. Kemudian daerah dapat menghadirkan diplomat kota sebagai representasi masyarakat di ranah internasional, yang menyuarakan dan menyampaikan permasalahan-permasalahan di . Melissen menyebutkan bahwa terdapat enam dimensi peran paradiplomasi diantaranya keamanan, pembangunan, ekonomi, representasi, networking, dan budaya (Pluijm & Melissen, 2007).

Kota Global

Sebagai kota yang berciri global, Sarah Sassen menyebutkan beberapa komponen khas diantara lain:

  1. Letak geografis yang memudahkan proses globalisasi ekomomi seperti mengelola, mengkordinasi, dan memberikan pelayanan kepada proses investasi;
  2. Lokasi strategis yang mampu dijadikan rumah produksi dalam menjaga kestabilan pasar global;
  3. Lokasi yang mampu menyediakan barang produksi yang dikoordinasikan dengan pusat pelayanan, tenaga ahli, dan pemasaran;
  4. Lokasi yang mampu mengembangkan produksi yang unik atau khas daerah;
  5. Daerah mempunyai mitra kota strategis dalam bidang investasi; dan
  6. Adanya dukungan profesional baik dalam tata kelola admistrasi industri untuk menciptakan industri yang mampu menekan ketimpangan ekonomi (Fathun, 2016).

Sister city merupakan kerjasama strategis yang disepakati secara resmi antara dua sub-state di dua negara dalam jangka panjang. Tujuannya untuk pemerintah kota dan seluruh masyarakat, termasuk masyarakat sipil, komunitas bisnis ataupun komunitas pendidikan (O’Toole, 2001). Saat ini sister city telah menjadi bagian dari hubungan antarbangsa untuk mendorong terbentuknya rasa saling pengertian dan kerjasama internasional yang mendukung kepentingan masing-masing negara. Perkembangan sister city di Indonesia dapat dikatakan cukup pesat dimana hingga saat ini telah tercatat sebanyak 47 kota dan 16 provinsi yang tercatat telah menerapkan sister city.

Salah satunya implementasi sister city Jakarta dan Beijing yang diwujudkan dengan terjalinnya kerjasama The Chinese-Language Training Workshop for International Relations Officer of Sister Cities of Beijing pada tahun 2010-2012 yang ditujukan untuk mengembangkan kerjasama di bidang pendidian dan pelatihan bahasa serta sebagai upaya mengkaji dan memahami karakteristik masing-masing kota yang terlibat hingga paradiplomasi dapat dikembangkan. Dalam pelatihan ini, diajarkan mengenai dasar-dasar Bahasa Mandarin baik romanisasi karakter huruf, pelafalan, intonasi, perbendaharaan kata, komunikasi, maupun penulisannya. Kedua kota mulai melakukan kerjasama setelah ditandatanganinya MoU sister city pemerintah DKI Jakarta dan pemerintah Kota Beijing pada tahun 1992.

Dalam MoU disebutkan bahwa tujuan kerjasama berlandaskan sister city ini ditujukan untuk mempromosikan dan memperluas kerjasama yang efektif dan saling menguntungkan kedua kota dalam batas-batas kapasitas dan kapabilitas masing-masing dalam bidang: Administrasi Kota, Olahraga, Kesehatan Umum, Perencanaan Kota, Manajemen Pariwisata, Industri dan Kerajinan Skala Kecil dan Menengah, dan bidang kerjasama lain yang disepakati bersama oleh para pihak secara tertulis (Sonardi, 2016).

Sesuai dengan masa berlakunya MoU kerjasama sister city DKI Jakarta – Beijing akan diperbaharui setiap tiga tahun dan akan diperpanjang dengan bagaimana kesepakatan antara kedua negara dalam melakukan kerjasama yang dianggap sebagai suatu bentuk nyata dari kerjasama transgovernmental (Primawanti, Dermawan, & Ardiyanti, 2019).

Jakarta dan Beijing

Diungkapkan oleh Pemerintah DKI Jakarta bahwa hubungan kekerabatan antara masyarakat Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) memiliki latar belakang sejarah yang cukup panjang, dimulai dari hubungan dagang antara masyarakat di Kepulauan Nusantara dan para pedagang RRT telah berlangsung sejak dahulu hingga hubungan persahabatan tersebut bahkan terus berlanjut hingga era modern sekarang ini di berbagai bidang (Situmeang, Darmastuti, & Nashir, 2014). Program kerjasama kedua kota di perluas dengan mengirimkan delegasi Jakarta dalam Chinese Language Training, keikutsertaan Jakarta dalam Beijing Youth Football Tournament di Beijing, partisipasi kedua kota dalam World Tourism Cities Federation (WTCF) dalam pengelolaan pariwisata, dan keikutsertaan Beijing dalam Enjoy Jakarta Sistery City Basketball Tournament dalam perayaan HUT DKI Jakarta (Sonardi, 2016).

Dalam bidang ekonomi dan perdagangan, Jakarta dengan Beijing saling bertukar informasi demi memperkuat dan meningkatkan kerjasama antara lembaga promosi investasi dan kamar dagang kedua kota demi meningkatkan pendapatan daerah (Wulansari, 2017). Kedua kota turut serta mengadakan dan mengirimkan delegasi festival budaya kota masing-masing demi mempromosikan dana melestarikan budaya daerah. Selain menjalin kerjasama antara Indonesia dan RRT dalam pada bidang ekonomi, pendidikan serta budaya dan pariwisata, kedua kota menyadari betapa pentingnya kegunaan dari bahasa asing khususnya Bahasa Mandarin untuk memperlancar komunikasi dalam meningkatkan hubungan kerjasama baik yang sudah terjalin maupun yang akan terjalin di masa mendatang (Pemerintah DKI Jakarta, 2012).

Kerja sama sister city berperan mengatasi berbagai masalah dengan meningkatkan hubungan bilateral maupun miltilateral dengan memanfaatkan percepatan dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi maupun informasi (International Sister Cities, 2014). Hal ini bersifat resiprokal, yaitu suatu proses timbal balik atau saling menguntungkan untuk mencoba membangun cara pandang baru akan hubungan antarnegara dalam politik internasional (Kauppi & Viotti, 1998). Mekanisme yang dibangun antara Jakarta dan Beijing ini bermanfaat bagi pengembangan wawasan serta memperoleh tukar-menukar pengalaman dan kesulitan yang dihadapi.

Dalam program Chinese Language Training 2010-2012 yang diadakan kedua kota, aktor yang terlibat antara lain, pemerintah kota dan masyarakat umum khususnya tenaga pengajar dalam bidang pendidikan bahasa sehingga lahir hubungan langsung antara pemerintah dengan masyarakat dan masyarakat dengan masyarakat sebagai hasil diplomasi kedua kota ini. Implementasi sister city Jakarta dan Beijing telah mendorong pengembangan potensi diri demi kemajuan daerah sehingga tidak bergantung pada hubungan diplomatic, meningkatkan promosi bidang kebudayaan dan pariwisata, dan perbaikan sarana prasarana infrastruktur demi menopang pembangunan daerah.

Melalui program-program diplomasi kedua kota pula, DKI Jakarta mendapatkan banyak manfaat dari mencontoh kemajuan pembangunan Kota Beijing yang terbuka meliputi sistem transportasi jaringan kereta api bawah tanah atau subway, pengelolaan objek wisata kota, penyediaan air bersih bagi penduduk, serta penanganan pelayanan kesehatan masyarakat kota.

Penutup

Maka dapat disimpulkan bahwa hasil kerjasama paradiplomasi kedua negara mulanya dilatarbelakangi oleh lemahnya ekonomi dan budaya nasional, terkikisnya hubungan antara budaya dan wilayah akibat media komunikasi yang baru, dipaksakannya persaingan antar wilayah disebabkan perubahan fungsional ekonomi global, dan melemahnya negara-negara dalam menghadapi tekanan global yang terus menerus hadir seiring perkembangan zaman.

Melihat program-program yang dilaksanakan Jakarta-Beijing maka diplomasi jenis sister city ini dilihat sebagai investasi kedalam untuk menumbuhkan sektor ekonomi baru yang mampu meningkatkan pendapatan daerah, pencarian sumber daya untuk mendukung budaya dan bahasa dengan Chinese Language Training, mendapatkan pengakuan dan legitimasi di ranah internasional dengan promosi budaya dan bahasa melalui festival, dan meningkatkan pengaruh politik di negara lain dan memobilisasi sumber daya seperti Beijing yang mempengaruhi pembangunan daerah dan masyarakat di Jakarta.

References

Acuto, M. (2013). Global Cities, Governance and Diplomacy: The Urban Link. London: Routledge.

Fathun, L. M. (2016). Paradiplomasi Menuju Kota Dunia: Studi Kasus. Indonesian Perspective, 1(No. 1). Retrieved June 30, 2021, from https://ejournal.undip.ac.id/index.php/ip/article/download/10430/8304
International Sister Cities. (2014). Sister Cities. Retrieved June 30, 2021, from Fairbanks, Alaska: http://sistercities.org/sites/default/f

Kauppi, M. V., & Viotti, P. R. (1998). International Relations Theory: Realism, Pluralism, Globalism and Beyond. Boston: Allyn and Bacon.

O’Toole, K. (2001). Australian and Japanese Sister City Type Relationships. Australian Journal of International Affairs.

Pemerintah DKI Jakarta. (2012). Acara Penandatanganan Program Pertukaran Kerjasama. Retrieved June 30, 2021, from http://www.jakarta.go.id/v2/news/2012/08/acara-penandatanganan-program-pertukaran-kerjasama-sister-city-jakarta-beijing-2012-2013#.VK572b4mU20

Pluijm, R. v., & Melissen, J. (2007). City Diplomacy: The Expanding Role of Cities. The Hague: Clingendael.

Primawanti, H., Dermawan, W., & Ardiyanti, W. (2019, July). Kerjasama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan Pemerintah Kota Beijing China dalam Skema Sister City. Journal of Political Issues, 1(1). Retrieved June 30, 2021, from https://mpra.ub.uni-muenchen.de/97672/1/MPRA_paper_97672.pdf

Situmeang, N., Darmastuti, S., & Nashir, A. K. (2014, July-September). Kerjasama Sister City Pemerintah Provinsi DKI Jakarta-Kota Beijing. Jurnal Ilmiah Kebijakan Nasional & Internasional, 1(1). Retrieved June 30, 2021, from http://library.upnvj.ac.id/pdf/artikel/artikel_ji_nasional/pusdiknas/pus-vol1-no1-jul-sep2014/28-35.pdf

Sonardi, A. S. (2016, October 1). Paradiplomasi Pemerintah DKI Jakarta Terhadap Pemerintah Kota Beijing Melalui Program Chinese Language Training 2010-2012. Retrieved June 30, 2021, from http://repository.unpad.ac.id/frontdoor/index/index/docId/19935

Wulansari, S. (2017). Kepentingan Indonesia dalam Kerjasama Sister City Jakarta-Beijing di Bidang Pariwisata tahun 2009-2025. eJournal Ilmu Hubungan Internasional, 5(4). Retrieved June 30, 2021, from https://ejournal.hi.fisip-unmul.ac.id/site/wp-content/uploads/2017/10/JURNAL%20SAFITRI%20(10-31-17-01-43-26).pdf

 

Zalwa Apriliana, Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional UPN Veteran Jakarta

 

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Powered by TranslatePress »