Laode Muhamad Fathun, Dosen Hubungan Internasional FISIP UPN “Veteran” Jakarta/Sekjen Komunitas Akademik Diplomasi Kota Indonesia,
Nina Khadijah Soeryotomo, Chantika Tiffany Kusuma Putri, (Mahasiswa Hubungan Internasional UPN “Veteran” Jakarta)
Pendahuluan
Kota Kendari adalah kota yang multi-etnis, artinya Kota Kendari didiami oleh banyak suku, seperti Tolaki, Muna, Buton, Bugis, Moronene, Bajo dan suku-suku kecil lainya. Sebagai wilayah kota administratif sekaligus Ibu Kota Provinsi, Kota Kendari tentunya selalu menjadi tujuan masyarakat Provinsi Sulawesi Tenggara untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak dibandingkan dengan wilayah pulau lainnya. Kecenderungan masyarakat ini didasari oleh kecenderungan pemerintah untuk memberikan perhatian lebih terhadap daerah yang lebih dekat dengan pusat. Selain itu, fakta Kota Kendari sebagai Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tenggara juga mendasari untuk menghasilkan PDB per kapita yang jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata satu daerah⁴. Kota Kendari berada tepat di Pusat Provinsi Sulawesi Tenggara resmi menjadi wilayah administrasi di bawah UU No. 23 Tahun 2014, yang meletakkan posisinya sebagai wilayah bagian dari Pemerintah Pusat dengan kewenangan sebagai wakil dari Pemerintah Pusat (PP) untuk menyelenggarakan segala urusan pemerintahan PP di daerah. Sebagai ibu kota, Kota Kendari menjadi pusat episentrum kemajuan ekonomi, inovasi, ketenagakerjaan, pendidikan, serta di bidang lainnya, sehingga Kota Kendari bisa dikatakan sebagai kota penyangga ekonomi untuk wilayah administrasi lainnya di Sulawesi Tenggara, seperti Konawe, Kolaka, Pulau Buton, dan Pulau Muna.
Oleh karena itu, sudah selayaknya Kota Kendari menyediakan episentrum lapangan kerja, inovasi, pendidikan, lapangan kerja, dan bidang lainnya yang berhubungan dengan kehidupan sosial bermasyarakat. Berdasarkan hasil observasi penulis menunjukan Kota Kendari menyuplai sumbangsi ekonomi untuk Provinsi Sulawesi Tenggara sebesar 15, 66% pada tahun 2025¹ menurut Badan Pusat Statistik berdasarkan data distribusi Produk Domestik Regional Bruto (PRDB) dengan harga berlaku. Dalam hal ini, distribusi PDRB Kota Kendari dipilih karena kontribusi sektoral dalam pembentukan PDRB secara keseluruhan merupakan salah satu indikator untuk menggambarkan struktur ekonomi suatu wilayah². Kemudian sumbangsi Kendari dalam bidang lapangan kerja meningkat secara bertahap selama periode 2020-2024, di mana, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) meningkat dari 64,11% pada tahun 2020 menjadi 68,45% pada tahun 2024. Sementara itu, TKK tetap berada pada tingkat tinggi, dengan fluktuasi kecil di sekitar 94%, menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk yang tergabung dalam angkatan kerja berhasil mendapatkan pekerjaan³, serta sumbangsi dalam bidang pendidikan meningkat seiring dengan peningkatan Harapan Lama Sekolah (HLS) penduduk umur 7 tahun sebesar 13,72%⁵. Sementara itu, rata-rata lama sekolah (RLS) penduduk umur 25 tahun meningkat menjadi 9,56% di tahun 2025⁵. Selain itu sumbangsi transasksi bisnis dan perdagangan Kota Kendari yang didominasi oleh perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor, memberikan peranan sebesar 17,68% terhadap total PDRB Kota Kendari, sehingga sumbangsi Kota Kendari terhadap PDRB Sulawesi Tenggara meningkat 0,24 poin dibandingkan tahun 2024⁶. Sumbangsi Kota Kendari dalam bidang inovasi dan teknologi juga mengalami peningkatan yang signifikan selama beberapa tahun ke belakang, sehingga Kota Kendari meraih poin sempurna sebesar 5,0 sebagai Daerah dengan Teknologi Termaju di Sulawesi pada tahun 2026⁷.
Perkembangan serta sumbangsi Kota Kendari sebagai Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tenggara dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kesiapan Kota Kendari untuk masuk ke dalam episentrum kerjasama terdepan, dalam tata kelola kerjasama daerah internasional. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan tata kelola Kota Kendari menuju kota dunia yang dibuat berdasarkan pendekatan identitas sebagai warga Sulawesi Tenggara, dan sekaligus melalui observasi langsung di Kota Kendari.
Morfologi Geografis
Kota Kendari bisa dikatakan mirip dengan Kota Surabaya secara morfologi geografis. Hal ini dikarenakan Kota Surabaya yang juga menjadi ibu Kota Provinsi Jawa Timur dengan posisi strategisnya yang terletak di pusat Jawa Timur. Sedangkan beberapa pulau lainnya di luar dari Kota Surabaya, terpisah oleh postur geografis berupa lautan, misalnya Kabupaten Sumenep, Madura, dan beberapa pulau lainya. Dalam konteks ini, Kota Kendari memang memiliki kemiripan dengan Kota Surabaya. Hal ini terlihat dalam posisi Kota Kendari berada di Pusat Sulawesi Tenggara, sedangkan sejumlah pulau sekitarnya seperti Pulau Muna, Pulau Buton, Pulau Kabaena, dan Kepulauan Wawonii terpisah oleh jarak dan akses laut. Sehingga untuk bisa ke Kota Kendari harus melewati lautan untuk bisa terkoneksi antar pulau.
Teori Geografi Politik
Berdasarkan teori geografi politik yang menyatakan bahwa lingkungan geografi yang dikelola akan mendatangkan keuntungan yang besar, artinya, dalam konteks ini, kemajuan suatu daerah tergantung pada tata kelola kebijakan. Sehingga postur wilayah maka akan menyangkut dua hal yakni 1) Physical feature, yang pada bagian ini menyangkut tentang bagaimana lingkungan termasuk iklim, perbatasan wilayah, besar wilayah dan jumlah pulau. Selain itu dalam optimalisasi tersebut membutuhkan 2) political behaviour, yang berhubungan dengan tata Kelola kebijakan untuk mengelola wilayah yang sudah terberi (Hayati & Yani, 2007). Pemberian wilayah ini tidak bisa berubah tinggal pada pengambil kebijakan dalam memanfaatkan wilayah tersebut menjadi sebuah peluang atau tantangan. Konteks ini bisa dikatakan sebagai bagian dari korporat atau identitas kolektif yang sudah diberikan, yang dalam tradisi konstruktivisme hanya membutuhkan peran saja (Rosyidin, 2021).
Dalam menyikapi situasi Kota Kendari yang sudah terberi dan berada di pusat kota sementara pulau lainnya berjarak cukup jauh dari Kota Kendari sebagai episentrum kemajuan, maka peran dan tindakan kebijakan Kota Kendari harus bisa melihat faktor-faktor determinisme, posibilitas, dan probabilisme, serta bantuan inovasi ilmu pengetahuan untuk menciptakan koneksi dan relasi antar pulau (Ebyhara, 2011). Oleh sebab itulah tata kelola Kota Kendari sebagai harapan kota masa depan harus mengarah pada kemajuan dan inovasi. Dikatakan Kota Kendari berpotensi menyaingi Kota Makassar sebagai episentrum kota terdepan dan menjadi pintu gerbang perdagangan menuju Timur Indonesia. Kuznetsov mengatakan bahwa region atau wilayah selain menjadi lokasi batas-batas administratif dan batas-batas identitas, region atau wilayah akan menjadi teritori yang bisa terkoneksi satu sama lain, tergantung tata kelola yang diperankan (Kuznetsov, 2015). Dengan demikian, tata Kelola Kota Kendari menuju Kota Dunia bergantung pada interpretasi geografi untuk menuju Kota Dunia.
Konsep Kota Dunia
Kota merupakan entitas masyarakat yang mendiami suatu wilayah. Kota terdiri atas beberapa klasifikasi, yaitu kota kecil, kota menengah, dan kota besar. Jika di kalkulasi, jumlah masyarakat yang tinggal di kota mencapai 1,4 miliar orang (Acuto, 2013). Di berbagai kawasan global seperti di Eropa, kontribusi kota juga sudah sangat menunjukan eksistensinya sebagai salah satu entitas dan aktor hubungan internasional. Misalnya di kawasan Eropa terdapat konsep Blue Banana yang merupakan sebuah konsep yang menekankan koneksi dan relasi antar kota dalam satu wilayah di kawasan Eropa. Konsep ini menekankan hubungan internasional antar kota untuk saling berkolaborasi dalam menciptakan pembangunan ekonomi. Konsep ini memang terlalu luas jika digunakan dalam konteks membangun Provinsi Sulawesi Tenggara. Namun maksud penulis mencontohkan koneksi antar kota ini adalah untuk memberikan informasi atau gambaran bahwa membangun kolaborasi, koneksi, dan relasi antar kota itu sangat penting untuk menciptakan relasi ekonomi.
Kota Kendari berpotensi menjadi kota masa depan jika dikelola bukan hanya membangun koalisi ekonomi lokal maupun nasional saja, tetapi juga membangun relasi global. Dalam gagasan yang disampaikan oleh Acuto bahwa saat ini keterlibatan kota dalam hubungan internasional sangat penting, sebab kota menjadi tempat eksekusi dari kebijakan global dan nasional. Sehingga kota harus bisa memiliki kapasitas dan kualitas sumber daya dalam mebangun ekonomi. Beberapa alasan keterlibatan kota menjadi penting karena pertama ada bias internasional, yakni relasi antar negara dan antar kota saat ini yang terlibat dalam fenomena globalisasi. Sehingga kota ikut serta dalam hubungan internasional. Kedua relasi antar aktor, di mana saat ini hubungan internasional berbentuk transnasionalisme yang menekankan variasi serta volume aktor yang terlibat dalam hubungan internasional termasuk kota. Artinya dalam dinamika global saat ini, kota terlibat sebagai bagian dari episentrum ekonomi dan bisnis global. Dalam konteks inilah kota akan berperan pada dua posisi yakni 1) city as actors yang artinya kota akan menjadi bagian dari transnasionalisme global yang bermain pada panggung politik global khususnya isu-isu low politik; dan 2) city as place yang artinya kota menjadi pusat eksekusi kebijakan nasional maupun internasional (Acuto, 2013).
Secara empiris, misalnya pada tahun 2025, Kota Kendari menjadi tuan rumah pertemuan nasional terkait pembahasan Produk Hukum Nasional. Kota Kendari dipilih karena dianggap mampu mengelola dan menjadi tuan rumah. Konteks kebijakan nasional ini harus bisa direspon dengan baik dengan menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten. Kemudian pada tahun 2026, Kota Kendari menjadi tuan rumah dalam pertemuan antar kota di Kawasan Asia Pasifik melalui fasilitator United Cities Local Governments Asia Pacific (UCLG ASPAC). Keterlibatan Kota Kendari menjadi tuan rumah bisa menjadi contoh bagi kota lain di Sulawesi Tenggara.
Selain itu dalam konteks kebijakan nasional dan global, Kota Kendari juga mengimplementasikan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2018, Permenlu No. 3 tahun 2019 serta UU No. 23 Tahun 2014 dan aturan lainnya. Bentuk konkritnya adalah Kota Kendari menjalin kerjasama Kota Kembar dengan Kota Yiwu di China dan Kota La Rochelle Perancis. Melalui dua kegiatan kerjasama ini, menunjukan Kota Kendari pelan-pelan menuju kota dunia. Namun jika kota Kendari ingin serius menuju Kota Dunia seperti yang pernah dilakukan oleh kota-kota lainnya di Indonesia, maka harus mempersiapkan setidaknya tiga hal yakni koneksi yang berhubungan relasi antar kota serta hubungan pusat dan daerah yang selaras. Kemudian 2) kompetensi yang mengarah pada kesiapan sumber daya manusia untuk membangun diri dan membangun citra sebagai kota yang layak menjadi tempat dikunjungi dan terakhir konsep yang artinya membangin visi dan misi kota dunia harus bisa memiliki gagasan yang terarah dan tertata. (Fathun, 2016).
Namun untuk menjadi Kota Dunia secara konseptual juga harus mampu melihat indikator-indikator berikut, yakni: 1) kondisi geografis yang strategis, 2) tempat produksi perusahaan asing, 3) mampu menyediakan produk-produk yang dibutuhkan di level global, 4) mengembangkan produk khas yang identik dengan sumber daya alam, 5) memiliki mitra kota sebagai afiliasi transnasional, 6) dukungan profesional dan tenaga ahli mendukung tata Kelola administrasi, dan 7) tingkat kestabilan ekonomi kota sebagai syarat utama kota modern (Saasen, 2005; Fathun, 2016). Kalau menurut referensi lain menyatakan bahwa tiga hal penting yang harus disiapkan yaitu diagnosis yang berkaitan dengan sumber daya yang tersedia, kemudian goals atau tujuan untuk memanfaatkan sumber daya dan terakhir strategi yang digunakan (Grandi, 2021). Oleh sebab itulah kota Kendari akan memiliki peluang dan tantangan untuk menuju kota dunia tersebut.
Proyeksi Kota Kendari Menuju Kota Dunia
Kota Kendari sebagai kota administrasi sekaligus menjadi pusat Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tenggara tentunya harus memiliki proyeksi tata kelola untuk membangun tata kelola kota yang bukan sekedar modern di level lokal maupun nasional, namun juga menuju Kota Global. Jika melihat posibilitas dan probabilitas yang dimiliki Kota Kendari untuk menuju Kota Dunia, maka harus dianalisis variabelnya melalui tujuh indikator yang disampaikan Sasen pada tahun 2005. Namun sebelum mengarah pada tujuh indikator tersebut ada beberapa hal yang bisa menjadi bagian dari proyeksi tersebut untuk memacu semangat tata Kelola Kota Kendari menuju Proyeksi Kota Dunia.

Adapun beberapa hal tersebut adalah pertama, pada tahun 2025 Kota Kendari menjadi tuan rumah penyelenggara event nasional yaitu Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Produk Hukum Daerah Tahun 2025 yang berupa pertemuan nasional seluruh Kabupaten, Kota, dan Provinsi di Indonesia. Pada pertemuan ini hadir 5.000 peserta dari berbagai provinsi, kabupaten/kota, yang terdiri atas gubernur, bupati/walikota, pimpinan DPRD, biro hukum pemerintah daerah, serta perwakilan pelaku usaha⁸. Pada pertemuan tersebut Kota Kendari bersama sejumlah Pemerintah Daerah di seluruh Indonesia membahas terkait tentang peninjauan kembali produk hukum nasional. Pertemuan ini tentunya akan sangat menguntungkan bagi Kota Kendari sebagai tuan rumah, karena dengan datangnya sejumlah Pemerintah Daerah seluruh Indonesia memungkinkan keuntungan promosi Kota Kendari akan semakin massif. Sebab melalui pertemuan tersebut, Kota Kendari semakin dikenal publik.
Selain itu juga pada pertemuan ini membuka peluang kolaborasi dan sinergi antar daerah untuk menciptakan kolaborasi pemenuhan kebutuhan daerah melalui kerja sama mitra local governmental. Kerjasama ini akan saling menguntungkan antar daerah khususnya dalam hal ekspor produk unggulan di daerah lain. Disisi lain, peninjauan Produk Hukum Daerah ini bisa menjadi keputusan strategis para Pemerintah Daerah untuk melihat kembali tugas dan fungsi Pemerintah Daerah dalam kerangka otonomi daerah di NKRI. Salah satu isu penting yang seharusnya dibahas dalam pertemuan tersebut adalah kontribusi Pemerintah Daerah dalam formulasi Kebijakan Luar Negeri. Formulasi Kebijakan Luar Negeri ini tentunya melalui kerjasama daerah di Indonesia dengan daerah lain di luar negeri. Bentuknya bisa Kerjasama Daerah dengan Daerah, Kerjasama Daerah dengan Pihak Ketiga dan Kerjasama Daerah dengan Lembaga Luar. Penulis berargumen kebanyakan daerah hanya berfokus pada peran Pemerintah Daerah dalam konteks lokal, sehingga tidak ada kemajuan inovasi dan tata Kelola menuju kota yang lebih modern dan berkemajuan. Hanya sebagian daerah yang memiliki pengetahuan dan pengalaman terkait kerjasama tersebut. Implikasinya kemajuan daerah di Indonesia hanya terpusat pada titik tertentu saja. Karena Pemerintah Daerah di Indonesia tidak memiliki visi internasional dan pengetahuan tentang kerjasama internasional di level daerah.
Kedua pada tahun 2026 Kota Kendari juga menjadi tuan rumah pertemuan United Cities Local Government Asia Pacific (UCLG ASPAC) yang merupakan organisasi dan asosiasi seluruh Pemerintah Daerah di wilayah Asia Pasifik yang bermarkas di Jakarta. Organisasi ini memiliki 236 jumlah anggota⁹ di seluruh kawasan Asia Pasifik. Pada pertemuan tersebut, Kota Kendari menjadi tuan Rumah dengan pokok bahasan pariwisata berkelanjutan. Penulis berargumen jika dilihat dari pertemuan tersebut seharusnya Kota Kendari sudah mulai dikenal untuk menuju Kota Dunia, dan sudah sepatutnya Kota Kendari memanfaatkan pertemuan tersebut sebagai forum negosiasi produk-produk unggulan Kota Kendari yang bisa dipamerkan dan dipasarkan di luar negeri. Bahkan seharusnya dengan menjadi tuan rumah Kota Kendari bisa membuka peluang kerjasama kota baik berbentuk kerjasama dengan Daerah lain, lembaga luar, atau justru dengan pihak ketiga, seperti salah satu hasil konkritnya adalah terbentuknya kerjasama sister city Kota Kendari dengan Kota Yiwu China dalam bidang sanitasi, air bersih, pariwisata, dll. Kerjasama tersebut menjadi bukti Kota Kendari sudah mampu beradaptasi menuju Kota berkelanjutan dan Kota Dunia.
Ketiga, Kota Kendari selalu dikenal sebagai kota Islami sebab selalu aktif menjadi tuan rumah pelaksanaan perlombaan Musabaqah Tilawatil Quran di level nasional. Tahapan selanjutnya adalah mencoba merancang MTQ ini menjadi event internasional yang bisa menjadi salah satu upaya untuk memperkenalkan Kota Kendari dalam arena internasional. Artinya, melalui keikutsertaan dalam UCLG ASPAC harus dijadikan momentum untuk melakukan kolaborasi dan mencari mitra dalam membuat event internasional.
Keempat, jika menilai berdasarkan indikator yang disampaikan oleh Sasen tahun 2005 tentang indikator Kota Dunia, tidak semua indikator tersebut sesuai dengan kebutuhan Kota Kendari namun bisa menjadi bahan pertimbangan dan memacu tata kelola yang baik. Misalnya, dalam elemen strategis geografis Kota Kendari belum banyak dikenal oleh banyak orang. Solusi utamanya adalah membangun arus dan media transportasi yang memadai seperti laut, transportasi udara yang murah, dan promosi-promosi digital dalam menilai posisi. Secara geografis, Kota Kendari menjadi kota penyangga bagi Kabupaten lainya di Sulawesi. Tenggara. Namun akses dari Provinsi Sulawesi Selatan masih cenderung mahal dan tidak ada jalur transportasi laut yang memadai untuk bisa membawa logistik ke Kota Kendari. Sehingga dibutuhkan tata kelola wilayah strategis dengan membangun Pelabuhan yang menjadi poros logistik dan transportasi seperti halnya di Makassar.
Kemudian, dari sisi pusat produksi dan inovasi, sampai saat ini belum terlihat secara kongkrit bahwa Kota Kendari merupakan pusat inovasi dan produksi dari produk-produk unggul yang bisa dipasarkan di kancah nasional dan dunia. Produksi hanya bisa memenuhi kebutuhan lokal, dan bukan untuk tujuan ekspor dan menjadi pendapatan daerah selain dari dana dari pusat. Kemudian dari sisi ketersediaan perusahan asing yang bermukim di Kota Kendari relatif belum banyak. Hal ini dikarenakan Kota Kendari belum sepenuhnya dikenal dalam level nasional dan global. Dengan menata kembali kebijakan publik yang terintegrasi akan membuka peluang Kota Kendari menjadi pusat ekonomi nasional di Kawasan Sulawesi. Selain itu, dari sisi mitra strategis dalam konteks kerjasama daerah belum terlihat hasilnya, baik kerjasama daerah di level nasional atau daerah lain yang ada di luar negeri. Dengan melibatkan para teknokrat yang ahli dalam bidang ini khususnya, mampu memberikan analisis yang baik dalam tata kelola kerjasama daerah bisa menjadi landasan kebijakan daerah yang baik dan komprehensif. Dengan demikian, Kota Kendari mampu mulai melangkah dalam kancah internasional, namun belum ada kebijakan strategis daerah yang mendukung secara kongkrit untuk membangun Kota Kendari menjadi Kota Dunia. Kota Kendari harus mampu menata kembali kota agar pendapatan daerah tidak sepenuhnya bergantung pada pajak. Dengan potensi yang sudah ada saat ini, serta dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia akan membuka peluang Kota Kendari menuju Kota dunia.
Kerjasama Sister City Kota Kendari dan La Rochelle (2013)
Salah satu langkah konkrit yang diambil oleh Kota Kendari untuk menjadi Kota Dunia adalah dengan melakukan kerja sama sister city atau kota kembar dengan Kota La Rochelle di Prancis. Kerja sama ini pertama kali diresmikan pada tahun 3 Oktober 2013 dengan ditandatanganinya Memorandum Saling Pengertian (MSP) oleh kedua walikota. Kerja sama ini berfokus pada sektor: 1) peningkatan pelayanan air bersih, 2) pengelolaan kebersihan kota, 3) pengelolaan pelabuhan dan penanganan Teluk Kendari, 4) pengembangan pariwisata, dan 5) perlindungan dan pengembangan lingkungan pesisir (pa). Kerja sama ini didasari oleh kesamaan geografis Kota Kendari dan La Rochelle yang sama-sama merupakan kota pesisir dan memiliki teluk (Lestari, 2022;Sudirman et al., 2023), namun dengan kemampuan pengelolaan wilayah yang jauh berbeda.
Dalam implementasinya dalam kurun waktu 2013 hingga 2026, kerja sama ini telah berkontribusi baik utamanya pada sektor pengelolaan air bersih dan tata ruang pariwisata. Pada bidang pengelolaan air bersih, kerja sama ini berfokus pada perbaikan kualitas layanan PDAM Tirta Anoa Kendari melalui proyek percontohan penyediaan air bersih 24 jam. Tenaga teknis dari Kendari juga dikirim untuk berlatih secara langsung di La Rochelle dalam rangka pengembangan kemampuan teknis ahli sumber daya manusia. Selanjutnya dalam bidang pariwisata dan ekonomi kreatif, Kendari bermaksud mengadopsi langkah-langkah yang membuat kesuksesan La Rochelle dalam mengelola teluknya dan akan secara bertahap membuka ruang bagi wisatawan serta mendorong pertumbuhan ekonomi bagi warga setempat dan pelaku UMKM.
Pelaksanaan kerja sama ini tentunya memiliki tantangan yang tidak sepele. Pasalnya, Pemerintah Kota Kendari mengalami kendala dalam mengatasi masalah air bersih serta kurang dalam memanfaatkan wilayah pesisir maupun teluknya. Beberapa tantangan utama yang dihadapi pemerintah Kota Kendari adalah keterbatasan anggaran daerah dan kapasitas teknis sumber daya manusia. Hal ini mengakibatkan Kota Kendari cukup bergantung pada bantuan-bantuan teknis dan transfer ilmu dari La Rochelle. Meskipun begitu, evaluasi dan komunikasi terus dilakukan secara aktif antara kedua kota. Ditunjukkan dengan perwakilan La Rochelle yang meninjau implementasi kerja sama di Kendari, hingga memberangkatkan sumber daya manusia Kendari untuk pelatihan. Dengan adanya transfer ilmu dan teknologi diharapkan Kota Kendari bukan hanya menjadi kota yang berkelanjutan, tetapi juga menjadi kota dunia yang bertaraf internasional.
Kerjasama Sister CIty Kota Kendari dan Kota Yiwu (2026)
Kota Yiwu, yang berada di Provinsi Zhejiang, Tiongkok Timur, memiliki Yiwu International Trade City yang merupakan pusat grosir dengan jutaan jenis produk yang akan dipasarkan ke berbagai negara. Oleh karena itulah, Kota Yiwu kerap kali dijuluki sebagai “supermarket dunia”. Mengetahui hal tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari melihat potensi pangsa pasar yang dimiliki Yiwu, sehingga di sela pelaksanaan United Cities and Local Governments Asia Pacific (UCLG ASPAC), terjadilah penandatanganan kerjasama antara Kota Kendari dengan Kota Yiwu tepatnya pada Jum’at, 8 Mei 2026, sebagai langkah awal memperluas pasar UMKM lokal hingga ke luar negeri. Kerjasama ini juga merupakan salah satu contoh langkah konkrit Kota Kendari untuk menjadi Kota Dunia.
Kesepakatan yang terjadi berfokus pada kerjasama distribusi UMKM asal Kota Kendari yang akan dipasarkan ke jaringan perdagangan internasional melalui Kota Yiwu. “Seluruh potensi UMKM yang kita punya di Kendari ini nantinya akan diambil potensinya oleh Pemkot Yiwu. Kita menjual ke mereka, nanti mereka yang akan pasarkan,” Ujar Siska, Wali Kota Kendari di sela kegiatan internasional tersebut. Melalui kesepakatan ini, Pemkot Kendari berharap produk UMKM lokal nantinya tidak hanya dipasarkan di pasar tradisional atau regional, tetapi juga mampu masuk ke jaringan perdagangan internasional yang lebih luas. Selain itu, skema kerjasama dibuat dengan sistem kolaborasi yang memiliki potensi bisnis, sehingga kerjasama menjadi berkelanjutan.
Peran penting dari UCLG ASPAC sebagai penghubung antara dua daerah dimanfaatkan dengan baik oleh Pemerintah Kota Kendari untuk menjalin kerjasama ekonomi baru dengan Kota Yiwu serta berbagai negara dan kota di kawasan Asia-Pasifik. Selanjutnya, peran kemendagri tidak luput dalam proses hingga perjanjian tersebut terjadi. Kemendagri sebagai fasilititator melakukan seleksi oleh Pemerintah Pusat untuk daerah yang dinilai serious dalam membangun hubungan kerjasama jangka panjang dan berdampak nyata bagi ekonomi daerah.
Maka dari itu, diharapkan selain sektor UMKM, kerja sama internasional tersebut juga mampu membuka peluang kolaborasi di bidang perdagangan, investasi, hingga promosi potensi daerah. Pemkot Kendari menilai momentum menjadi tuan rumah forum internasional harus dimanfaatkan untuk memperkuat posisi kota sebagai daerah yang terbuka terhadap jejaring ekonomi global.
Referensi
¹Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tenggara. (10 Maret 2026). Distribusi Persentase Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Kabupaten/Kota (persen) di Provinsi Sulawesi Tenggara, 2025. Diakses pada 4 Juli 2026, dari https://sultra.bps.go.id/id/statistics-table/3/YVRaR1RHODBVSG9yYldGa2JFZ3lWbW81U1M4MFFUMDkjMw==/distribusi-persentase-produk-domestik-regional-bruto-atas-dasar-harga-berlaku-menurut-kabupaten-kota-di-provinsi-sulawesi-tenggara–2020.html?year=2025
²https://banjarkota.go.id/pdrb/
³https://kendarikota.bps.go.id
⁴Eurofound (2020), What makes capital cities the best places to live?, European Quality of Life Survey 2016 series, Publications Office of the European Union, Luxembourg.
⁵Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2025 BRS No. 68/11/74/Th. XIX, 5 November 2025
⁶Statistik Daerah Kota Kendari, Volume 15, Tahun 2025
⁷Di Era Siska-Sudirman, Kota Kendari Tembus Daerah Teknologi Termaju Sulawesi 2026 Raih Skor Sempurna 5,0 Dari BRIN – MNC Trijaya Kendari. (2026, March 3). MNC Trijaya Kendari – News, Information and Music. https://www.trijayakendari.com/di-era-siska-sudirman-kota-kendari-tembus-daerah-teknologi-termaju-sulawesi-2026-raih-skor-sempurna-50-dari-brin/
⁸Saragih, Y. (2025, August 27). Hadiri Rakornas Produk Hukum Daerah di Kendari, Wabup Simalungun: Produk Hukum Daerah Miliki Peran Vital – Pemerintahan Kabupaten Simalungun. Pemerintahan Kabupaten Simalungun. https://web.simalungunkab.go.id/2025/08/27/hadiri-rakornas-produk-hukum-daerah-di-kendari-wabup-simalungun-produk-hukum-daerah-miliki-peran-vital/
⁹https://uclg-aspac.org/list-of-members/
Sudirman, F. A., Pertiwi, G., & Saidin, S. (2023). Implementasi Kerjasama Sister City Kota Kendari (Indonesia) – Kota La Rochelle (Perancis) dalam Peningkatan Pelayanan Air Bersih (2017-2019). NeoRespublica: Jurnal Ilmu Pemerintahan, 5(1), 400-416.
Lestari, D. T. (2022). Implementasi Sister City dalam Menanggulangi Isu Lingkungan Hidup: Studi Kasus Kendari dan La Rochelle. Global Focus, 2(2), 149-161.